Wednesday, July 28, 2010

Antara Atom, Senyawa dan Pernikahan


Alam semesta dengan dimensi yang luasnya tak terjangkau pemahaman manusia, berfungsi pada keseimbangan yang sensitif tanpa pernah gagal. Alam semesta dan bahan penyusunnya yaitu atom, yang sebelumnya tidak ada menjadi ada segera setelah peristiwa Big Bang, dapat terbentuk berkat keseimbangan yang telah diciptakan oleh Allah. Allah Yang Maha Kuasa menciptakan bumi dan langit dengan keteraturan yang terencana dan sudah demikian sejak awal pembentukannya, demikian halnya dengan penciptaan manusia. Segala yang terjadi pada kehidupan manusia sudah ditentukan Allah sejak dari awal penciptaannya.

Semua yang ada di sekitar kita termasuk diri kita sendiri tersusun oleh atom-atom, dan atom-atom ini tersusun dari banyak partikel yang akan membentuk suatu persenyawaan. Atom-atom terikat dalam senyawa akibat adanya suatu ikatan kimia yang ditentukan oleh gaya tarik elektromagnetik. Atom-atom berikatan guna mencapai kestabilannya.

Nah terus apa hubungannya antara atom, senyawa, dan pernikahan? Hmm bagi rekan-rekan dari kimia udah bisa nebak dong? hehehe. Mengapa saya tertarik untuk membahasnya? Karena masalah pernikahan tidak akan pernah menjadi topik yang bosan untuk dibicarakan dan kita memerlukan banyak ilmu untuk mempersiapkan suatu pernikahan.

Di atas kan sudah disinggung bahwa atom-atom dapat mencapai kestabilannya melalui pembentukan ikatan. Menikah merupakan satu bentuk yang menunjukkan telah terjadinya suatu ikatan. Dengan kata lain menikah ini dapat menjadi penstabil dari atom, biar dari atom yang terstabilkan itu melahirkan suatu persenyawaan, dan senyawa itu nantinya akan bermanfaat untuk digunakan oleh manusia. Pada akhirnya senyawa itu harus bisa memberikan pengabdian yang lebih baik lagi dari pada bapaknya yaitu si atom.

Nah demikian pula dengan menikah. Menikah adalah proses penggabungan 2 insan yang seharusnya dapat menjadikan masing-masing insan menjadi sosok yang lebih baik lagi. Di dalam pernikahan akan terjadi proses pendewasaan dan pemahaman terhadap pasangan, sehingga jelas setiap insan akan menjadi jauh lebih bijak dalam menyikapi pasangannya masing-masing. Perlu kita ketahui bahwa adanya sifat yang berbeda dari suatu atom dapat menyebabkan atom tersebut dapat berikatan membentuk suatu senyawa. Hal tersebut dapat kita analogikan sama dengan pernikahan. Di dalam pernikahan akan terjadi proses kerjasama diantara pasangan dalam mencari kecocokan dari sifat-sifat yang berbeda yang ada dari tiap pasangan.

Mmm lalu apakah kita sudah siap untuk menikah? Hanya masing-masing individu yang tahu bagaimana kesiapannya. Yang menjadi masalah mungkin waktu. Kapan waktunya? Siapa yang tepat buat kita? Karena hanya Allah yang tahu belahan jiwa yang terbaik buat kita. Coba kita lihat yuk Al-Quran surat An-Nissa ayat 1. Di sana Allah menjelaskan bahwa dua insan itu berasal dari satu, lalu Allah memisahkannya. Artinya, jodoh itu bagian dari diri kita. Ga akan jauh berbeda dengan kita. Klo kita baik, maka si jodoh pun akan baik. Begitu juga sebaliknya, klo kita rusak menurut Allah, maka memang jodoh kita nanti juga seperti itu. Nauzubillahimindzalik. Apa yang menurut kita baik, belum tentu baik menurut Allah. Jadi kita ga perlu memaksakan diri akan suatu pilihan yang menurut kita baik. Sabar dan sholat serta tetap memohon diberikan jalan yang terbaik mungkin itu yang perlu terus dilakukan. Nah sekarang ga akan pusing lagi dong buat mengetahui kaya gimana siyh jodoh kita. Klo pengen tau kaya gimana jodoh kita, maka kita cukup melihat aja dari kelakuan kita dalam pandangan Allah kaya gimana, betul ga?

Wa la taqrobuzzina, jangan sekali-kali mendekati zina! Hal itu yg bikin kita jadi ga sabar, alias ngebet. Wah gawat klo misal kita udah masuk dalam kategori yg di dasarkan sama hawa nafsu, alias ngebet. Beuh!! Pasti Allah langsung kasih tuh jodoh, hehehe. Jangan sampe kita tertipu hanya karena dia jago nyebutin akhi dan ukhti, ana antum atau apapun itu. Karena itu cuma terjemahan bahasa arab yang ga ada penilaiannya sama sekali dalam pandangan Allah. Lakukan ikhtiar semaksimal mungkin. Klo kita dah sadar akan siapa diri kita (seperti bagaimana siyh hawa nafsu kita, dosa kita, dan bagaimana cara mengendalikannya), maka kita akan mengenal Allah karena mukmin yang mengenal dirinya akan jauh lebih mengenal Allah. Makanya jangan pernah bosan untuk selalu meningkatkan kualitas diri kita menjadi jauh lebih baik lagi.

Yakinlah dengan semua ketentuan Allah. Ikhtiar semaksimal mungkin, berdo’a, bersabar dan ikhlas dengan ketentuanNya. Nikmat Allah sangat luas dan datang dari arah yang ga pernah kita duga. Lakukan semuanya hanya untuk beribadah kepada Allah, Insya Allah dengan demikian kita akan selalu mendapatkan cinta dan kasih sayangNya. Allah akan semakin memperhatikan kita dan meridhoi segala niatan baik kita. Amin Ya Robbal’alamin…

NB: Buat yang belum stabil, mari kita berjuang mencapai kestabilan kita tentunya dengan usaha yang ga main-main ya!hehehe. Buat yang sudah stabil, semoga dipanjangkan jodohnya. Serahkan semua urusan kita hanya pada Allah...

Sumber : YDI

No comments:

Post a Comment