Wednesday, July 28, 2010

Memberi Untuk Tetap Berkarya

Banyak memberi, maka akan lebih banyak menerima. Belakangan saya belajar banyak hal dari seorang teman. Dia banyak sekali berbagi hal-hal positif seperti kata mutiara dan kata-kata nasihat beraliran religius dalam suatu situs jejaring sosial. Secara teori, memang akan sangat baik jika kita melakukannya dengan sepenuh hati. Ingin orang lebih baik dari diri kita. Tapi di zaman sekarang, apa itu mungkin!? Dimana individualisme di junjung tinggi. Untuk bisa meraih apa yang diinginkan, setiap orang bisa menghalalkan berbagai cara termasuk menyingkirkan orang lain dari jalannya.

Awalnya saya merasa sikapnya itu terlalu berlebihan dan hanya ingin cari perhatian orang lain. Suatu saat saya mengalami kehilangan motivasi, kehilangan arah dan tujuan. Hampir dua hari belakangan ini saya tidak memanfaatkan waktu luang yang ada untuk meningkatkan kualitas diri. Entahlah, yang saya lakukan malah menonton TV, tidur-tiduran, makan, walaupun tidak lapar. Pada intinya spending some time with a bunch of trash activity.

Ketika itu, saya lihat situs jejaring sosial, facebook dan ngeliat wall teman saya itu. Ternyata saat itu ia lagi semangat, kemudian secara iseng, saya coba minta ijin via inbox di facebook untuk bisa menampilkan hasil tulisannya yang berjudul “atom, senyawa dan pernikahan” di blog yang saya buat. Jawabannya cukup membuat saya merenung “Haha ... kok harus minta ijin dulu sih, itu juga tulisan kamu toh Dit ... Ayo Dit, kita sebarkan kebaikan lebih banyak lagi !!”

Sejenak saya terdiam, berpikir, semangat sekali dirinya untuk mau menebarkan tulisan-tulisan yang bermanfaat buat orang lain. Mungkin ia sudah merasakan betul manfaatnya. Manfaat dari berbagi !?

Dari situ saya jadi teringat, kata-kata seorang bijak dulu, ilmu yang paling bermanfaat adalah ilmu yang diamalkan. Karena ilmu baru disebut ilmu, kalau sudah teramalkan, dan orang lain merasakan manfaatnya. Profesi yang paling mulia adalah seorang guru. Memberikan ilmunya hingga anak didiknya menggapai cita-citanya. Sebuah kepuasan tersendiri melihat ilmu yang diberikan dengan tulus hati bisa membuat anak didiknya lulus, lalu melanjutkan sekolah untuk berjuang mengejar impiannya.

Ilmu yang diberikannya tidak akan pernah berkurang, malah akan semakin tajam seperti pisau. Semakin diasah, akan semakin terasa manfaatnya. Seperti halnya shodaqoh, dalam pandangan Allah, uang yang kita berikan adalah sebuah investasi, tidak akan pernah hilang, malah akan semakin bertambah berkali-kali lipat. Jika kita memberikannya dengan ikhlas, tulus hati, hanya untuk melaksanakan kewajiban kita sebagai Hamba Allah dan mengikuti suri tauladan kita Rosulullah. Seharusnya dari situ otak kita bukan ditargetkan untuk sebuah materi, tapi setting otak kita seharusnya berubah demi menjadikan umat lebih baik, menggapai kesejateraan bersama sebagaimana yang Allah janjikan terhadap Islam (Rahmatan Lil ‘alamin).

Banyak orang yang tahu kebaikan dan kebenaran lebih baik daripada hanya sendiri. Pada akhirnya kita pun akan mati, maka saat itu ilmu yang kita miliki sama sekali tidak ada arti. Ilmu itu untuk dunia, bukan untuk dibawa mati. Hilanglah ilmu yang kita miliki bersama dengan masuknya diri kita ke liang kubur. Lalu apa yang kita bawa ke liang kubur? Pahala, amal kebaikan dari ilmu yang kita miliki selama di dunia. Lalu berapa orang yang merasakan manfaat dari ilmu dunia yang kita miliki?

Nah, mulai sekarang otak kita seharusnya mulai berpikir, apa yang hari ini bisa saya berikan kepada orang lain? Semoga kita bisa bersama-sama membangun masyarakat yang lebih baik. Kita adalah pengaruh dari lingkungan kita. Karena itu, seharusnya diri ini bisa terdorong untuk bisa terus berkarya dan terus berkarya agar bisa memberikan yang lebih baik dan lebih banyak kepada orang lain, membangun peradaban dalam tali kebenaran Allah. Dan khususnya agar kita bisa membuktikan ... Inilah Islam !!

Thanks for the inspiration,

Time will tell ... :)

Written by : Webhead

No comments:

Post a Comment