Tuesday, June 28, 2016

Resensi Buku: Menguak Rahasia Cara Belajar Orang Yahudi


Judul buku: Menguak Rahasia Cara Belajar Orang Yahudi
Penulis: Abdul Waid
Tahun: 2013 (Cetakan ke-10)
Penerbit: Diva Press

Sumber: divapress-online.com
Oke, buku berikutnya bercerita tentang bagaimana keunggulan orang-orang Yahudi yang hanya menghuni 1% dari seluruh penduduk dunia, tapi jumlahnya yang sangat kecil itu mampu menjadi dominasi dalam beberapa panggung kesuksesan penduduk dunia. Hal ini seakan kaum minoritas yang mampu menjadi mayoritas dalam menempati posisi strategis peranan manusia di muka bumi. Tapi apa rahasia yang mereka miliki? Apa kebiasaan hidup yang mereka jalani?


Buku ini sangat menarik, memaparkan rahasia orang-orang Yahudi mampu menjadi manusia yang unggul dari sisi kecerdasan otak mereka dibandingkan manusia lainnya. Buku ini banyak membandingkan kebiasaan-kebiasaan bangsa Yahudi dengan bangsa-bangsa lainnya khususnya Indonesia. Mulai dari semenjak manusia dalam kandungan, lalu setelah lahirnya. Bagaimana mereka menjaga keturunan mereka yang unggul dengan menjaga pernikahan agar tidak terjadi pernikahan dengan bangsa lain, hanya dengan sesama orang-orang Yahudi saja. Hal ini menjadikan DNA mereka tetap unggul, adat istiadat tetap terpelihara, sejak zaman Nabi Musa hingga sekarang. 

Pembinaan yang dilakukan pada anak-anak Yahudi pun sangat dijaga. Misalnya seperti mewajibkan anak-anak Yahudi mempelajari musik dan mampu menggunakan instrumen, khususnya piano dan biola. Hal ini memang sesuai dengan pendidikan parenting kekinian, bahwa setiap anak pasti memulai kecerdasannya dari kecerdasan bermusik. Islam pun mengajarkan pendidikan anak itu memulainya dari alunan melodi pembacaan Al-Qur'an. Yahudi mengajarkan musik terbaik adalah klasik, sedangkan islam mengajarkan musik terbaik adalah lantunan ayat suci Al-Qur'an. Keduanya ternyata sinkron. Selain itu penguasaan bahasa, menurut orang Yahudi, dengan anak menguasai bahasa, mereka bisa mempelajari banyak hal, tidak hanya ilmu yang dikembangkan oleh orang Yahudi, tapi juga ilmu yang ada di dunia ini. Penguasaan bahasa artinya kemampuan membuka jendela dunia akan kekayaan ilmu pengetahuan. Terlihat penekanan budaya Yahudi yang lebih mengutamakan perkembangan otak dibandingkan fisik dan penampilan seorang anak.

Walaupun dibalik keunggulan tersebut, ada satu hal mungkin yang tidak diajarkan bangsa Yahudi, yaitu mereka terlalu mengunggulkan otak, tapi tidak akhlak dan perilaku yang seharusnya mulai dipupuk semenjak masa kanak-kanak.

Pembiasaan imajinasi dan membayangkan sesuatu yang tidak real. Dalam hal ini, berhubungan dengan konsep agama. Semenjak zaman Nabi Musa, memang bangsa Yahudi diajarkan untuk meyakini adanya Allah, Dzat yang menciptakan alam semesta ini, namun tidak dapat dilihat oleh kasat mata. Bangsa Yahudi meyakini bahwa dengan imajinasi dan keyakinan, akan sanggup membuka pintu peradaban dan mimpi. Sebab segala sesuatu yang besar harus berawal dari impian.

Satu hal yang menurut saya paling menarik dari pemaparan tentang bangsa Yahudi ini yaitu konsep pembelajaran di kelas. Penulis sangat kontras sekali membandingkan bagaimana konsep pembelajaran di kelas orang Yahudi dengan orang Indonesia. Anak-anak Yahudi kalau di kelas senang sekali bertanya, beda halnya anak Indonesia, semakin lama usia pendidikan anak, ia semakin enggan untuk bertanya. Kenapa? karena sistem pendidikan di Indonesia memformat anak untuk takut bertanya, bertanya itu tanda kebodohan, teman yang suka bertanya itu memalukan, dan lain sebagainya. Hal ini berbeda jauh dengan sistem pendidikan Yahudi, dimana anak yang tidak bertanya, justru itu yang menunjukkan kebodohan. Kebiasaan seperti ini pun terus dibawa hingga usia dewasa, dimana dalam pemikiran mereka (baca: bangsa Yahudi), cara tercepat untuk memperoleh ilmu itu dengan cara bertanya. Namun dijelaskan juga dalam buku ini bagaimana sikap orang Yahudi dalam berinteraksi dengan orang lain, khususnya bertanya, yaitu dengan menjaga eye contact, dan ditambah senyuman. 

Banyak sekali yang bisa dipaparkan dalam buku ini terkait bagaimana orang-orang Yahudi bisa menjadi bangsa yang unggul dari bangsa-bangsa lain di dunia. Jawabannya, karena mereka lebih mengutamakan meningkatkan kecerdasan mulai dari jabang bayi bahkan setelah mereka sukses dalam karirnya, kebiasaan untuk terus belajar tidak pernah mati. Islam pun sebenarnya telah mengatur segala sesuatunya agar umat Islam menjadi bangsa yang unggul. Terbukti, di zaman Nabi Musa, bangsa Yahudi adalah pengikut Nabi Musa, yang berarti bangsa Yahudi di zaman Nabi Musa adalah umat Islam juga. Namun perbedaannya, bangsa Yahudi tetap memegang teguh adat kebiasaan dalam Islam yang dapat memelihara kecerdasan mereka, sedangkan umat Islam sekarang sudah banyak menyimpangkan dan melupakan adat kebiasaan (baca: aturan) dalam Islam yang seharusnya membuat mereka unggul. 

Buku ini sangat direkomendasikan untuk membuat kita kembali tersadar akan apa yang telah kita tinggalkan dalam aturan-aturan Islam, sehingga gara-gara diri kita, umat Islam menjadi bangsa yang tertinggal. Tertinggal dalam teknologi, tertinggal dalam pengetahuan, tertinggal dalam peradaban, jika dibandingkan dengan bangsa lainnya, selain bangsa Yahudi. 

Wallahu'alambishawab

Silahkan komentar dan masukannya di bawah sini yaaaa :)

No comments:

Post a Comment